tidak berjudul.

"Kamu baik-baik ya kedepannya."

Kalimat itu terus-terusan muter di kepalaku, kaya kaset rusak yang nggak mau berhenti. Ingin sekali kuucapkan ke kamu, tapi aku nggak beraniii. Mungkin ini bakal jadi kalimat terakhirku, kata-kata penutup tentang semua hal yang pernah ada di antara kita; aku dan kamu. Aku sadar, belakangan ini kamu bertanya "Apa aku sempat atau pernah mencintaimu atau tidak?" Jujur, aku kira dari caraku memilihmu saat itu, kamu sudah tahu jawabannya. Aku memilihmu di antara beberapa kemungkinan yang ada. Aku sengaja tidak menjawab pertanyaanmu kemarin karena aku pikirrrr, kehadiranku di sisimu kemarin sudah cukup menjawab pertanyaanmu ituu. Tapi maaf, mungkkinnnn, diamku justru membuatmu terluka dan merasa tidak berharga.

Maaf ya, selama bersamaku mungkin kamu hampir nggak pernah mendapatkan perlakuan yang sepenuhnya menyenangkan. Aku tahu betapa melelahkannya harus menghadapi dan memahami mood-ku yang sering banget nggak jelas setiap harinya. Kamu harus tahu, aku itu tipe orang yang sulit sekali buat percaya apalagi suka atau ‘sayang’ sama orang lain. Tapi sama kamu kemarin, aku memberanikan diri. Aku mengambil keputusan besar untuk merespons semuaaaa ceritamu itu, karena saat itu, aku benar-benar ingin mencoba bersamamu.

Tapi nyatanya, aku justru terjebak sama ketakutanku sendiri. Mungkin salahku juga yang terlalu terburu-buru menerima ajakanmu ituu, sampai aku sendiri sulit memahami apa yang sebenarnya aku mau dan apa yang benar-benar aku rasakan. Ketakutanku akan komitmen dan perasaanku yang belum jelas ini terasa sangat menyebalkan, bukan cuma buatku, tapi pasti buat kamu juga. Aku nggak mau terus-terusan menahanmu hanya untuk menghadapi ketidakpastian yang aku buat sendiri. Itu hanya akan membuang-buang waktumu.

Oh iya, aku juga mau bilang kalau kamu itu nggak salah apa-apa. Sama sekali nggak salah. Mungkin dari semua kesalahpahaman yang sempat terjadi kemarin, akulah yang terlalu kekanakan dalam menyikapi segala sesuatunya. Aku yang nggak bisa dewasa menghadapi situasi kita, aku yang terlalu pakai ego sendiri. Maaf yaaa kalau sikapku yang kaya anak kecil itu sering bikin kamu bingung, dan terima kasih banyak sudah luar biasa sabarin aku waktu ituuu. Kamu hebat banget bisa tahan sama egoku.

Soal reels yang pernah aku kirim dulu ataupun kemarin-kemarinnya... kamu pikir aku cuma bercanda atau sekadar seru-seruan aja pas kirim itu ke kamu, kan? Kamu salah besar. Beberapa reels yang aku kirim, baik dulu maupun kemarin, itu adalah caraku 'bicara' di tengah keterbatasan bahasaku. Itu semua relate dengan apa yang aku rasakan, tapi aku payah banget buat jelasinnya secara langsung ke kamu. Dari sekian banyak reels yang sering kukirim ituu, reels yang kemarin aku kirim adalah kalimat yang sangat-sangat ingin kusampaikan ke kamu.

Ada satu hal yang paling aku syukuri dan nggak akan pernah aku lupakan ketika aku bersamamu dulu, kemarin: terima kasih yaaaa, karena tidak pernah menghujaniku dengan kata-kata kasar pas kamu marah, padahallll kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudahh misuh-misuh nggak jelas. Terima kasih sudah tidak pernah membentakku sedikit pun. Di saat aku paling menyebalkan pun, kamu tetap memanggilku dengan nada lembut, menjelaskan segala hal dengan pelan dan penuh sabar.

Terima kasih juga sudah mau mengenal ibuku, sudah sempat izin untuk mendekatiku, terima kasih banget. Dan terima kasih juga sudah menceritakan tentangku ke ibumu. Maaf ya, aku selalu saja membuatmu ribet dengan segala kekacauanku. Dari semua sisi burukku yang kamu tahu, aku beneran bersyukur karena kamu masih mau kasih aku ruang buat jadi teman kamu sampai sekarang, beneran tetep mau kann? Makasih ya, sudah melihat aku lebih dari sekadar kesalahanku, dan masih mau baik sama aku sampai detik terakhir ini.

Dan jujur, dari kemarin-kemarin sebenernya aku udah coba ‘bantu’ kamu supaya kamu bisa lebih cepat melupakan sedikit kisah kita kemarin itu. Kamu mungkin nggak sadar, tapi aku sengajaaaaa sekali buat kamu kesel, aku sengaja buat kamu capek sama semua sikapku yang nggak jelas. Aku melakukan itu semua karena aku ingin kamu ngerasa ‘cukup’ dan muak, sampai akhirnya kamu nggak punya alasan lagi buat bertahan atau sekadar nungguin aku. Aku nggak mau kamu buang-buang waktu buat ngeladeni aku, yang masih ‘bingung’ ini. Semoga dengan semua rasa kesel dan capekmu yang aku tumpuk belakangan ini, kamu bisa segera lupa dan kembali nemuin bahagiamu lagi, bahagia yang utuh, sama seperti sebelum kamu kenal dan terjebak sama aku. Semoga kamu cepet lupa yaaaaa, dan tolong, cepatlah bahagia lagi.

Maaf banget, aku nggak bisa jujurin semua ini semalemm. Aku sengaja milih via telepon karena aku nggak mau kamu terus-terusan membaca chat menyebalkanku yang mungkinnnnnnn, akan kamu simpan dan bikin kamu 'kesel/muak/sedih' tiap kali membacanya. Tapi nyatanya? Tenggorokanku tercekat. Suaraku hilang, dan akhirnya, yang keluar cuma obrolan kosong, obrolan yang gagal menyampaikan betapa menyesalnya aku karena telah mengecewakan orang sebaik kamu.

Setelah ini, aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Tugasku di hidupmu sudah selesai yaa. Tengkyuuww 133 harinyaa yaaaaa 🖤 Selamat melanjutkan perjalananmu sendiri. Jaga dirimu baik-baik ya, sama seperti yang sering kamu katakan kepadaku dulu dan kemarin, aku juga sangat ingin kamu baik-baik saja. Hiduplah dengan bahagia setelah lepas dari hari-hari burukmu bersamaku. Jangan lagi salah memilih orang yang salah seperti diriku yang hanya bisa menyakitimu yaaaa.

Aku bingung mau kasih judul apa untuk tulisan ini. Mau buat judul yang mellow, tapi perpisahan ini aku yang minta, jadi rasanya aku nggak berhak buat terlihat sedih. Mau buat judul yang bahagia, tapi nyatanya aku ngga OKE. Aku cuma ingin tulisan ini nggak terasa menyesakkan, supaya saat ku buka lagi di blog ini nanti, tenggorokanku nggak perlu tercekat lagi.

Lucu ya? Aku kira blog ini bakalan aku isi dengan kisah-kisah manis yang bikin aku tersenyum saat kubaca lagi nanti. Ternyata malah harus aku isi dengan tulisan yang menceritakan betapa buruknya aku memperlakukan seseorang yang sangat teramat baik kepadaku.

Terima kasih, sekali lagi. Jaga selalu senangmu ya. Ini seriusan, jaga senang dan bahagiamu itu yaaaaa. 🌻

 

See you, jaga diri kamu baik-baik.

Komentar